Lompat ke konten utama
Sanggar Ponokawan

Tentang Wayang

Mengenal wayang kulit, warisan budaya tak benda Indonesia yang diakui UNESCO, serta pembelajarannya di Sanggar Ponokawan.

Apa Itu Wayang Kulit

Wayang kulit adalah seni pertunjukan tradisional Jawa yang memadukan seni rupa, sastra, musik, dan filsafat dalam satu pementasan. Pada tahun 2003 UNESCO menetapkan wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Pertunjukan dipimpin seorang dalang yang memainkan seluruh tokoh, menyuarakan setiap karakter, dan mengatur jalannya iringan gamelan sepanjang lakon.

Lakon di Sanggar Ponokawan

Lakon yang dibawakan di sanggar dipilih karena kandungan nilainya: Bambang Sumantri, Dewa Ruci, Jabang Tetuko, Kangsa Adu Jago, dan Jarasanda. Setiap lakon menjadi media mengajarkan nilai kehidupan lewat dunia pewayangan.

Siswa tidak hanya menghafal jalan cerita, tetapi juga mengenali watak tiap tokoh, kelebihan sekaligus kekurangannya, agar pesan lakon benar-benar sampai.

Yang Dipelajari di Sanggar

Sabetan

Teknik menggerakkan wayang agar tokoh tampak hidup di layar.

Antawacana

Melafalkan suara dan watak tiap tokoh secara konsisten.

Sanggit

Menyusun dan mengembangkan alur lakon.

Karakter Tokoh

Mengenali silsilah dan nilai yang dibawa setiap tokoh pewayangan.

Tokoh yang Dikenalkan di Sanggar

Tokoh-tokoh berikut menjadi bahan latihan sekaligus bahan renungan bagi siswa Sanggar Ponokawan.

Bratasena

Bratasena merupakan sosok yang perkasa. Ia juga menggambarkan sosok yang gigih mencari kebenaran sejati. Dalam kisah pertemuannya dengan Dewa Ruci, ia rela menempuh perjalanan berat dan berbahaya demi mendapatkan ilmu tentang hakikat hidup dan pengendalian diri. Setelah menuntaskan perjalanan spiritual itu, ia pun berganti nama menjadi Werkudara, tanda bahwa dirinya telah menemukan jati diri yang lebih matang.

Setiap atribut yang dikenakan Bratasena pun sarat makna, mulai dari gelung Minangkara yang melambangkan kesadaran mengenal Tuhan, hingga kain poleng yang menggambarkan pengendalian hawa nafsu. Dari sinilah muncul pesan moral bahwa kekuatan sejati berasal dari ketulusan hati, kejujuran, dan kesungguhan dalam mencari makna hidup yang lebih dalam.

Lakon di Sanggar Ponokawan: Bima Suci

Bambang Sumantri

Bambang Sumantri merupakan sosok yang pekerja keras. Ia tidak mau mengabdi sembarangan, ia ingin membuktikan dulu bahwa dirinya pantas, melalui perjuangan keras melewati berbagai tantangan sampai akhirnya dipercaya menjadi orang penting di kerajaan.

Sosok Bambang Sumantri tidak luput dari kekurangan. Ia pernah malu mengakui adiknya sendiri, Sukrasana, hanya karena adiknya berwujud raksasa kecil yang tidak tampan. Padahal, Sukrasana sangat sayang padanya. Dari karakter Bambang Sumantri, dapat dipelajari bahwa jangan pernah malu dengan keluarga sendiri, karena kehebatan seseorang jadi tidak berarti kalau ia tidak punya rendah hati dan sayang kepada keluarganya.

Lakon di Sanggar Ponokawan: Bambang Sumantri

Kangsa

Kangsa dikenal sebagai tokoh antagonis dalam pewayangan, raja yang berkuasa dengan cara merebut takhta Kerajaan Mandura dari Prabu Basudewa. Sejak awal hidupnya diliputi dendam serta ambisi untuk merebut kekuasaan. Watak serakah dan haus kekuasaan inilah yang menjadi ciri khasnya sepanjang cerita, menjadikannya simbol dari sisi gelap manusia yaitu amarah, iri hati, dan keinginan menguasai segalanya dengan cara apa pun.

Pada akhirnya, Kangsa tewas di tangan Kresna, sang keponakan yang selama ini ia takuti dan coba singkirkan. Dari kisah ini kita belajar bahwa kekuasaan yang direbut dengan cara curang dan kekerasan tidak akan bertahan lama, dan kejahatan pada akhirnya akan berbalik menghancurkan pelakunya sendiri.

Lakon di Sanggar Ponokawan: Kangsa Adu Jago

Jarasanda

Prabu Jarasanda dikenal sebagai raja Kerajaan Magada yang sakti namun bermental angkara murka. Ia merupakan sosok yang memiliki watak ingin menang sendiri, bengis, keras hati, dan selalu menuruti kata hatinya sendiri. Ambisinya menguasai jagad raya membuatnya menculik dan menawan puluhan raja dari berbagai negeri untuk dijadikan tumbal persembahan.

Pada akhirnya, Jarasanda gugur di tangan Bima dalam pertarungan gulat yang panjang dan melelahkan. Dari kisah ini kita belajar bahwa ambisi tanpa batas dan haus kekuasaan, sekalipun didukung kesaktian luar biasa, pada akhirnya akan runtuh berhadapan dengan kebenaran dan kebersamaan orang-orang yang bersatu melawan kezaliman.

Lakon di Sanggar Ponokawan: Jarasanda

Pandawa

Pandawa adalah lima putra Prabu Pandu: Puntadewa yang jujur dan sabar, Bratasena yang perkasa, Janaka yang halus budi dan pandai memanah, serta si kembar Nakula dan Sadewa yang setia. Kelimanya tumbuh dalam kesusahan setelah hak mereka atas Kerajaan Astina dirampas Kurawa.

Meski berulang kali dicurangi, Pandawa tetap rukun dan saling menjaga hingga akhirnya menang dalam perang Baratayuda. Dari kisah Pandawa kita belajar bahwa kerukunan saudara, kejujuran, dan kesabaran adalah kekuatan yang tidak dapat dikalahkan tipu daya.

Kurawa

Kurawa adalah seratus putra Prabu Drestarastra dan Dewi Gendari, dipimpin si sulung Duryudana. Didorong rasa iri dan hasutan Patih Sengkuni, mereka berulang kali mencelakai Pandawa dan merebut Kerajaan Astina lewat tipu daya, termasuk permainan dadu yang curang.

Jumlah yang besar dan kekuasaan yang luas tidak menyelamatkan Kurawa; mereka hancur dalam perang Baratayuda. Dari kisah Kurawa kita belajar bahwa keserakahan dan dengki hanya membawa kehancuran, sebesar apa pun kekuatan yang dimiliki.

Punokawan

Punokawan adalah Semar bersama ketiga anaknya, Gareng, Petruk, dan Bagong, para abdi sekaligus pamong yang setia mendampingi para ksatria. Namanya berasal dari kata pono yang berarti tahu dan kawan yang berarti teman: kawan yang memahami. Semar sejatinya jelmaan Batara Ismaya yang turun ke dunia untuk mengasuh para ksatria berbudi luhur, meski wujudnya sederhana dan jenaka.

Dalam pertunjukan wayang, Punokawan hadir di adegan goro-goro, menghibur penonton dengan banyolan sambil menyelipkan kritik dan pesan moral. Dari kisah Punokawan kita belajar bahwa kebijaksanaan tidak diukur dari rupa atau kedudukan, dan bahwa nasihat yang jujur bisa disampaikan dengan rendah hati lewat tawa.

Lihat Wayang dari Segala Sisi

Putar model tiga dimensi berikut untuk mengamati detail tatahan dan sunggingan pada tokoh wayang kulit.

01 · Tokoh

Bambang Sumantri

Kesatria yang mengabdi kepada Prabu Arjunasasrabahu, raja Maespati. Ia rela menempuh berbagai ujian untuk membuktikan dirinya pantas, namun pernah malu mengakui adiknya sendiri, Sukrasana, yang berwujud raksasa kecil. Tokoh ini mengajarkan bahwa kehebatan tidak berarti tanpa rendah hati dan kasih kepada keluarga.

Geser untuk memutar · cubit atau gulir untuk memperbesar

02 · Tokoh

Bratasena

Nama muda Werkudara, putra kedua Prabu Pandu. Dalam lakon Dewa Ruci ia menempuh perjalanan berbahaya demi ilmu hakikat hidup. Atribut khasnya sarat makna: gelung Minangkara melambangkan kesadaran mengenal Tuhan, dan kain poleng melambangkan pengendalian hawa nafsu.

Geser untuk memutar · cubit atau gulir untuk memperbesar

03 · Tokoh

Kangsa

Raja Mandura yang merebut takhta dari Prabu Basudewa dengan cara curang. Watak serakah dan haus kekuasaan menjadikannya lambang sisi gelap manusia: amarah, iri hati, dan keinginan menguasai segalanya. Ia gugur di tangan Kresna, keponakan yang selama ini ia takuti.

Geser untuk memutar · cubit atau gulir untuk memperbesar

04 · Tokoh

Jarasanda

Raja Magada yang sakti namun angkara murka. Ambisinya menguasai jagad membuatnya menawan puluhan raja dari berbagai negeri untuk dijadikan tumbal. Ia gugur di tangan Bima dalam pertarungan gulat yang panjang, tanda bahwa kesaktian tanpa kebajikan pada akhirnya runtuh.

Geser untuk memutar · cubit atau gulir untuk memperbesar

05 · Tokoh

Pandawa

Lima putra Prabu Pandu: Puntadewa, Bratasena, Janaka, Nakula, dan Sadewa. Model ini menampilkan mereka berjajar sebagai satu keluarga. Meski berulang kali dicurangi Kurawa, kelimanya tetap rukun hingga menang dalam perang Baratayuda, lambang kejujuran dan kerukunan saudara.

Geser untuk memutar · cubit atau gulir untuk memperbesar

06 · Tokoh

Kurawa

Seratus putra Prabu Drestarastra dan Dewi Gendari, dipimpin si sulung Duryudana. Model ini menampilkan beberapa di antaranya sebagai perwakilan. Didorong rasa iri, mereka merebut Astina dari Pandawa lewat tipu daya, lalu hancur dalam perang Baratayuda, lambang keserakahan dan dengki.

Geser untuk memutar · cubit atau gulir untuk memperbesar

07 · Tokoh

Punokawan

Semar bersama ketiga anaknya, Gareng, Petruk, dan Bagong, para abdi sekaligus pamong para ksatria. Wujudnya sederhana dan jenaka, namun nasihat merekalah yang kerap menuntun bendaranya keluar dari kesulitan. Di adegan goro-goro mereka menghibur penonton sambil menyelipkan kritik dan pesan moral, lambang kebijaksanaan yang rendah hati.

Geser untuk memutar · cubit atau gulir untuk memperbesar

Ingin Anak Anda Belajar Seni Pedalangan?

Sanggar Ponokawan membuka kelas pedalangan untuk berbagai jenjang usia.