Lompat ke konten utama
Sanggar Ponokawan

Profil Sanggar Ponokawan

Mengenal lebih dekat Sanggar Ponokawan, sanggar seni tradisi Jawa yang berkomitmen melestarikan budaya melalui wayang dan gamelan.

Sejarah Singkat Sanggar Ponokawan

Berawal dari kecintaan pada budaya leluhur, Sanggar Ponokawan didirikan Pak Warseno pada tahun 2013 sebagai paguyuban seni tradisi di Kota Semarang. Bukan sekadar tempat belajar karawitan dan pedalangan, sanggar ini lahir dari sebuah keyakinan sederhana bahwa cara terbaik menghormati leluhur adalah dengan terus melakukan apa yang mereka cintai. Maka setiap gending yang ditabuh, setiap lakon yang dipentaskan, adalah wujud bakti, bukti bahwa apa yang dulu dihidupi leluhur, kini masih hidup dan dirawat oleh anak cucunya.

Nama “Ponokawan” sendiri berasal dari dua kata Jawa, yaitu pono yang berarti tahu, dan kawan yang berarti teman. Sebuah harapan agar sanggar ini menjadi wadah untuk saling mengenal dan tumbuh bersama sebagai kawan dalam berkarya, sekaligus kawan dalam menjaga apa yang telah diwariskan.

Di bawah naungan Yayasan Kampung Seni 29, langkah Pak Warseno bukan sekadar mendirikan tempat berlatih, melainkan mengemban cita-cita besar, yaitu menjadi garda terdepan dalam melestarikan seni dan budaya leluhur Jawa Tengah. Sebab bagi Pak Warseno, membunyikan gamelan bukan hanya soal nada dan irama. Itu adalah bahasa cinta yang diwariskan turun-temurun, cara leluhur bercakap dengan generasi sekarang, dan cara generasi sekarang menjawab dengan bakti.

Legalitas Sanggar

Nama Lembaga
Sanggar Ponokawan
Tahun Berdiri
2013
Bidang
Sanggar Seni dan Budaya Jawa Tengah
Lokasi
Kota Semarang
Fokus
Pelestarian Seni dan Budaya Jawa Tengah

Visi & Misi

Visi

Menjadi garda terdepan dalam melestarikan seni dan budaya leluhur Jawa Tengah.

Misi

  1. Menanamkan pemahaman dan membangkitkan rasa cinta terhadap seni dan budaya Jawa.
  2. Memberikan dukungan pada setiap kegiatan masyarakat umum yang berhubungan dengan agama, seni, budaya, sosial kemanusiaan, dan pendidikan.
  3. Mendukung dan bersinergi dengan Pemerintah Kota Semarang, baik di tingkat pusat, daerah, maupun kelurahan, khususnya dalam mewujudkan program “Pelestarian Seni dan Budaya” Jawa Tengah.
  4. Menjadi wadah pengembangan diri bagi masyarakat, terutama generasi muda, dalam menangkal pengaruh budaya luar melalui kegiatan pelestarian dan pengembangan seni budaya Jawa Tengah.

Profil Pengajar

Warseno

Warseno

Pendiri & Pengajar Sanggar Ponokawan

Pak Warseno adalah pendiri sekaligus sosok penggerak di balik lahirnya Sanggar Ponokawan pada tahun 2013. Berbekal kecintaan mendalam pada karawitan dan pedalangan, beliau menjadikan sanggar ini sebagai ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal gamelan dan wayang sebagai bagian dari jati diri budaya Jawa.

Dalam kesehariannya membina peserta didik, Pak Warseno kerap mengangkat lakon-lakon sarat filosofi, seperti Dewa Ruci, Jabang Tetuko, Kangsa Adu Jago, dan Jara Sanda, sebagai media mengajarkan nilai-nilai kehidupan lewat dunia pewayangan.

Bagi Pak Warseno, mendidik bukan hanya soal mewariskan keterampilan seni, melainkan menanamkan pono dan kawan, saling memahami dan tumbuh bersama, agar semangat nguri-uri kabudayan Jawa terus hidup di tangan generasi berikutnya.

Mari bergabung dan menjadi bagian dari pelestarian budaya Jawa

Sanggar Ponokawan terbuka untuk semua anak yang ingin belajar dan mencintai seni tradisi.